Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Mencintai Sejantan Ali

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
===========================

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!


‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.


Senin, 26 Juli 2010

Salah Masuk Kelas Malah Tetep Masuk Kelas Orang

Ini adalah kisah tentang aku dan teman sekelasku, mengisahkan kejadian yang menimpa temen sekelasku itu, namanya Ayu *Maaf ya…, nama disamarkan, kecuali jika yang bersangkutan sudah memberikan izin untuk mempublikasikan dirinya secara terbuka :P

Cerita ini juga melibatkan kelas 3KS2. *aku dan Ayu di 3KS1. Tau kan... KS1 dan KS2 (lebih tepatnya jurusan KS) di STIS seperti apa? Selama 3 tahun kuliah dengan 2 kali rolling kelas, orang-orangnya berasa tetap yang itu-itu saja. Lha yang di-rolling adalah 60 mahasiswa yang terbagi menjadi 2 kelas doank. Hitung berapa peluang dua orang akan tetap sekelas selama 4 tahun di STIS!

Siang itu, aku dan Ayu menghabiskan break setelah sesi 2 dengan makan di kantin. Waktu itu kami cuek aja teman-teman yang lain sedang berada di mana, yang penting kami sempat sarapan siang *loh? untuk menenangkan perut dan kami tak akan terlambat mengikuti kelas untuk sesi 2. Kami tak ingin ketinggalan kuliah bapak dosen kami tercinta yang mengajar dengan ramah dan sabar penuh senyum :)

Usai makan di kantin kami naik ke lantai 3.
"Ruang berapa, Yu?" tanyaku.
Ayu yang berjalan di sebelahku mengangkat bahu. Katanya, "Paling kalo gak 2303 ya 2304 kayak biasa."
Aku melihat jadwal kuliah di ponselku, "2303, Yu."
"Pintunya masih ditutup, Lin," kata Ayu menunjuk pintu kelas yang tertutup rapat tanpa celah di depan kami. "Kita telat ya?"
"Ah, masa sih?"
"Kan bapaknya on-time banget?"
"Iya juga sih," kataku. "Tapi tadi aku lihat Sabit (ketua kelas, red) masih di bawah."
"Bisa aja kan dia yang telat," sanggah Ayu.

Minggu, 04 Juli 2010

The Mist at My Campus

Saat itu aku sedang berdiri di depan rak sepatu ruang laboratorium komputer. Aku mencoba sebuah cara yang lebih efisien untuk mengambil sepatuku, yaitu dengan kaki. Ya, efisien, tapi kurang efektif.

Beberapa saat berkutat dengan sepatuku, aku tidak menyadari ada sedikit keributan di koridor lantai dua ini. Semakin banyak orang yang lalu lalang. Sepertinya sedang membicakan sesuatu yang seru. Semakin lama semakin gaduh hingga aku dan temanku bertanya-tanya. What's going on???
"Ada apa? Duit ID mau cair ya?"
"Siapa bilang?!" jawab mereka. "Kami juga ga tau ada apa."
Aku jadi penasaran.

Sesaat aku melupakan interupsi tadi. Aku mulai menyusun rencana apa yang akan aku perbuat seusai kuliah ini. Mau ke kantin, malas turun. Aku menimbang-nimbang untuk langsung naik ke lantai empat saja, ruang kuliah selanjutnya.

Entah hanya perasaanku saja atau benar-benar kenyataan, aku merasakan pandanganku kabur. Aku juga mencium samar-samar bau yang sepertinya familiar tapi aku lupa. Ah, aku berhalusinasi!

Baru saja aku melangkahkan kaki ke anak tangga pertama menuju lantai tiga, tiba-tiba banyak orang tergesa-gesa berjalan berlawanan arah denganku. Kemudian mereka cepat turun ke lantai satu. Aku tak sempat bertanya. Sesaat kemudian kulihat kabut putih mengalir di sela-sela kaki mereka dan udara pun jadi semakin kabur. Bau tak enak ini juga semakin santer. Aku meragukan niatku.

Astaga! Ini asap.

Tragedi Pulau Kelor

Aku terus berlari dan berlari, walau kaki-kakiku terasa berat, meski semakin aku melangkah semakin pasir-pasir itu menarik kakiku masuk ke dalamnya. Pokoknya aku tak boleh berhenti berlari!

Aku menoleh ke belakang. Mereka masih membayangiku, tetapi mereka semakin menjauh dan akhirnya menyerah. Ternyata pasir tidak mendukung baik aku ataupun mereka.

Aku menghentikan pelarianku ini. Jujur, aku lelah. Aku berjalan ke sisi pulau yang satunya. Kulihat sekarang mereka mengejar teman-temanku yang berlindung di sisi lain pulau itu. Terlintas dalam pikiranku untuk melakukan negosiasi dengan mereka.

Aku sudah berpikir untuk melangkah balik dan turun menemui mereka pelan-pelan tanpa membuat gaduh bahkan tak ingin mereka menyadariku. Aku sudah memutuskan. Karena bagaimanapun, semuanya, aku dan teman-temanku, akan menjadi korban keganasan mereka. Namun terlambat, mereka telah membaca langkahku dan mereka tidak mengerti itikad baikku. Mereka salah paham! Mereka pikir aku masih ingin lari. Tidak!

Mereka datang dari dua arah, dari kanan dan kiriku. Aku tak bisa mundur karena aku tidak tahu hal mengerikan apa yang sedang menunggu di belakangku. Dan aku tak bisa maju karena itu sama saja dengan bunuh diri. Aku memilih resiko untuk menghadapi mereka. Aku mati langkah. Pasir-pasir itu tak ingin melepaskan kakiku. Bahkan aku pun kehilangan kata-kata.

Seseorang menyergapku dari belakang. Aku mencoba berontak tapi terlambat. Orang yang lain lagi telah menangkap kedua kakiku.

Sabtu, 03 Juli 2010

Mau Dicaplok Ular Gede

Pada suatu pagi yang cerah (halah!) Lutfi manggil-manggil namaku.
"Lina…! Lina…! Sini sebentar, Lin…! Aku mau nunjukin sesuatu."
"Apaan sieh, Lut?!"
"Sini dulu deh…."
Lutfi ngebujuk aku sambil narik-narik tanganku. Padahal aku dah ga tertarik gitu deh….

"Coba lihat ke atas, Lin!"
Aku mendongak, ngelihat ke arah yang ditunjuk Lutfi.
"Itu! Bagus kan?" katanya sambil senyam senyum bangga.
"Tadi aku sama Handita ketemu program bagus banget deh. Itu! Terus kami utak-atik.

Program???
Yang aku lihat di hadapanku ada ular raksasa gede banget! Diameternya hampir sepanjang rentangan tanganku. Ga tau deh itu ular sebenarnya apa. Entah hologram atau robot. Yang jelas itu program komputer yang diketemuin Handita dan Lutfi.

"Waaaaaaa…….!"
Aku terpana. Tapi lama-lama aku gak tertarik.
"Ah, Lut, ularnya cuman bisa nampang kayak gini aja?" kataku sok-sok meremehkan.
"Enggak kok." Lutfi protes. "Ularnya bisa ngeliatin kita, mencium bau kita, bisa deteksi infrared juga lho."
"Buktinya?!"

Lutfi ngasih instruksi. Terus ularnya merunduk ke arahku. Aku mundur.
"Ular…, gigit Lina!"

Menginstal Cinta


Pelanggan (P): Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal cintakasih. Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?

Custumer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?

CS: Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?

P: Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS: Langkah pertama adalah membuka HATI Anda. Tahukah Anda di mana HATI Anda?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...