Setujukah kalian semua bahwa momen-momen skripsi adalah momen yang penuh warna dan paling berkesan selama kuliah?
Sebenarnya aku pengen cerita tentang skripsi ini kemaren, berbarengan dengan hari terakhir penerimaan proposal. Bukan pengajuan lho, tapi penerimaan! Tapi sayangnya aku lebih tertarik mengerjakan tugas JavaScript yang kukerjakan berhari-hari tapi tak kunjung selesai. Padahal gampang sih kalo mau cepet. Tinggal smsin aja Handita atau Farid minta contekan. Tapi ga mau ah. Aku mau belajar! Demi skripsiku.
OK. Kita balik ke hiruk-pikuk approving proposal skripsi....
Pertama-tama issue pengajuan proposal skripsi udah digembar-gemborkan oleh Duo-M (Pak Munawar dan Pak Mirza maksudnya ^^) sejak sebelum liburan semester 6. Enak aja.... Padahal setiap yang maju menghadap malah ditanyain, "Emang kamu yakin naik ke tingkat 4?" capedeee...
Atau pertanyaan-pertanyaan horor seperti, "Nilai Java kamu berapa?" Konon kabarnya kalau kamu jawab B bakalan diremehin, dan kalau jawab C malah dicuekin abis. Kalo gitu caranya gimana yang ga dapat A atau A- bisa berkembang?
OK. Kita husnudzon aja dulu. Bapaknya pengen kita menghasilkan skripsi dengan kualitas terbaik. Tapi menurut sebagian besar mahasiswa, cara beliau itu agak...kejam... >,<
Issue dah menyebar sebelum liburan, tapi nyatanya belum ada tuh yang ngajuin hingga pembagian transkrip IP di awal semester 7. Sampai di kelas Bapaknya bilang, "Mana nih proposal skripsinya? Sampai sekarang saya belum terima satu pun." Kami sekelas cuman bisa nyengir ga jelas.
Padahal kenyataannya ga setenang itu. Kami para mahasiswa harapan bangsa (*halah) sibuk hunting topik. "Topik oh topik..., di mana daku bisa menemukan dirimu...?" Malah ada seorang temen yang nyeletuk, "Nyarinya Ilham dulu,, klo udah ketemu, baru nyariin si Topik." Gubrakkk!
